Jumat, 04 September 2009

Ekaristi Kaum Muda: 100% Katolik 100% Indonesia

Pajangan - Bantul, 29 Agustus 2009

Ekaristi Kaum Muda rayon Bantul yang rutin diadakan dua bulan sekali (CMIIW) ini kali ini diadakan di Gereja Maria Rosari, Pajangan. Ekaristi yang diadakan di gereja stasi yang masih dalam wilayah Paroki Bantul ini kali ini mengangkat tema 100% Katolik 100% Indonesia.

Tema 100% Katolik 100% Indonesia ini sebenarnya bukan tema yang baru. Kata-kata "100% Katolik 100% Indonesia" merupakan salah satu slogan yang sering digunakan oleh Gereja Katolik Indonesia. Tema ini diambil selain karena EKM kali ini dekat dengan momen peringatan kemerdekaan Indonesia, juga dimaksudkan untuk mengajak umat yang hadir merenungkan bagaimana menyikapi iman sebagai umat Katolik tanpa mengabaikan identitas diri sebagai Bangsa Indonesia, juga sebaliknya.

Dalam renungan yang dimasukkan dalam homili, setiap OMK yang diundang memberikan dua renungan dalam bingkai aksi teaterikal maupun audio visual. Setelah tiap-tiap perwakilan OMK mempertunjukkan aksinya, Romo Hartono, yang memimpin Perjamuan Ekaristi ini kemudian memberikan kesimpulan dari pesan-pesan yang diberikan dalam setiap aksi teaterikal (dan juga audio visual).

Salah satu dari dua aksi teaterikal yang diberikan oleh perwakilan OMK Paroki Sedayu adalah aksi teaterikal yang berjudul "Rapat para Arwah." Aksi ini merupakan perwujudan imajinasi tentang apa yang mungkin dikatakan arwah para pejuang kemerdekaan jika melihat situasi Bangsa Indonesia saat ini. Di dalam aksi ini, diceritakan bahwa arwah para pejuang mengadakan pertemuan untuk bermusyawarah menyikapi situasi yang melanda Bangsa Indonesia saat ini.

Aksi ini diawali dengan peletakan dupa (yang telah dinyalakan tentunya) di tengah-tengah arena teater untuk membangkitkan suasana mencekam. Kemudian, dalam pencahayaan remang-remang, dan di sela-sela tempat duduk umat, setiap pemain perlahan-lahan memasuki arena yang telah disediakan. Tata suara yang digunakan juga membuat suasana lebih mencekam. Suasana mencekam kemudian pecah karena aksi teaterikal yang disajikan ternyata merupakan aksi komedi satir. Pesan yang diberikan dalam aksi ini adalah kritik terhadap berbagai macam hal yang telah dilakukan para pemimpin bangsa pada masa lalu hingga saat ini.












Tidak ada komentar: