Selasa, 15 September 2009

Buka Bersama SOCIALITE (Komunitas Ex Kelas 3 IPS SMAN 1 Yogyakarta angkatan 2005)


Hari Senin 14 September 2009 yang lalu saya diajak mengikuti acara buka puasa bersama yang diadakan teman-teman SOCIALITE, yang notabene saya juga menjadi bagian dari komunitas itu. Dalam acara rutin tahunan ini, yang menjadi tuan rumah kali ini adalah salah satu teman saya yang bernama Sinta. Acara kali ini diadakan secara sederhana, namun karena kesederhanaan itu, suasana "guyub" langsung terasa. Kami disuguhi jus buah, sejumlah jajan pasar, dan nasi box. Tidak semua dari kami (SOCIALITE) hadir di situ, hanya sebagian dari kami, dan memang, dari tahun ke tahun, semakin lama kami yang hadir semakin sedikit.

Seperti acara buka bersama lainnya, pasti di sela-sela ke-"guyub"-an itu ada "acara" foto-foto. Sebagian dari kami pasti ada yang membawa kamera. Dalam acara-acara serupa (kecuali jika yang mengadakan adalah komunitas fotografi) saya hanya membawa kamera pocket dan itupun hanya kadang-kadang, dan sangat jarang membawa SLR. Kebetulan kamera BenQ DC E300 saya sedang rusak, dan kebetulan juga saya kali ini membawa Nikon D70 saya. Lewat postingan-postingan foto saya di Facebook, teman-teman SMA mulai mengira saya sebagai fotografer profesional karena menganggap foto-foto postingan tersebut bagus, padahal saya masih merasa belum sampai ke tingkat itu dan postingan itu hanya karya "main-main."

Menurut pendapat saya, dalam acara buka bersama sederhana yang nampaknya hanya berkumpul bersama dan berkesan main-main itu adalah saatnya untuk memotret "sungguhan" sedangkan "hunting foto" dengan model juga dengan gear lengkap yang sering saya ikuti dan berkesan serius justru adalah acara main-main. Teman-teman SMA sudah terlanjur mengecap saya sebagai "orang pintar motret," maka saya merasa harus memotret sebaik-baiknya agar mereka tidak kecewa kepada saya dalam acara buka bersama ini. Hasilnya, saya memotret beberapa kali dalam acara ini, dan berhasil menangkap ekspresi-ekspresi yang menarik dari teman-teman yang saya potret. Beberapa teman yang saya potret menyukai hasilnya setelah melihat preview di LCD D70 saya. Beberapa hasil saya olah sedikit dan kemudian saya posting di Facebook, dan ada yang menjadikan postingan saya sebagai profile picture-nya.

Beberapa hasilnya dapat dilihat di sini...semoga berkenan. Salam!

Sedayu, Bantul, Yogyakarta, 16 September 2009 12.34 WIB




Jumat, 04 September 2009

Ekaristi Kaum Muda: 100% Katolik 100% Indonesia

Pajangan - Bantul, 29 Agustus 2009

Ekaristi Kaum Muda rayon Bantul yang rutin diadakan dua bulan sekali (CMIIW) ini kali ini diadakan di Gereja Maria Rosari, Pajangan. Ekaristi yang diadakan di gereja stasi yang masih dalam wilayah Paroki Bantul ini kali ini mengangkat tema 100% Katolik 100% Indonesia.

Tema 100% Katolik 100% Indonesia ini sebenarnya bukan tema yang baru. Kata-kata "100% Katolik 100% Indonesia" merupakan salah satu slogan yang sering digunakan oleh Gereja Katolik Indonesia. Tema ini diambil selain karena EKM kali ini dekat dengan momen peringatan kemerdekaan Indonesia, juga dimaksudkan untuk mengajak umat yang hadir merenungkan bagaimana menyikapi iman sebagai umat Katolik tanpa mengabaikan identitas diri sebagai Bangsa Indonesia, juga sebaliknya.

Dalam renungan yang dimasukkan dalam homili, setiap OMK yang diundang memberikan dua renungan dalam bingkai aksi teaterikal maupun audio visual. Setelah tiap-tiap perwakilan OMK mempertunjukkan aksinya, Romo Hartono, yang memimpin Perjamuan Ekaristi ini kemudian memberikan kesimpulan dari pesan-pesan yang diberikan dalam setiap aksi teaterikal (dan juga audio visual).

Salah satu dari dua aksi teaterikal yang diberikan oleh perwakilan OMK Paroki Sedayu adalah aksi teaterikal yang berjudul "Rapat para Arwah." Aksi ini merupakan perwujudan imajinasi tentang apa yang mungkin dikatakan arwah para pejuang kemerdekaan jika melihat situasi Bangsa Indonesia saat ini. Di dalam aksi ini, diceritakan bahwa arwah para pejuang mengadakan pertemuan untuk bermusyawarah menyikapi situasi yang melanda Bangsa Indonesia saat ini.

Aksi ini diawali dengan peletakan dupa (yang telah dinyalakan tentunya) di tengah-tengah arena teater untuk membangkitkan suasana mencekam. Kemudian, dalam pencahayaan remang-remang, dan di sela-sela tempat duduk umat, setiap pemain perlahan-lahan memasuki arena yang telah disediakan. Tata suara yang digunakan juga membuat suasana lebih mencekam. Suasana mencekam kemudian pecah karena aksi teaterikal yang disajikan ternyata merupakan aksi komedi satir. Pesan yang diberikan dalam aksi ini adalah kritik terhadap berbagai macam hal yang telah dilakukan para pemimpin bangsa pada masa lalu hingga saat ini.