Rabu, 21 Mei 2008

PASAR TRADISIONAL DENGAN JAJAN PASAR-NYA

Ini sekedar cerita pengalaman kuliner saya dengan pasar-pasar di Yogyakarta yang pernah saya kunjungi. Tidak semua pasar, namun saya menemukan sesuatu yang menarik di tiap-tiap pasar. Bukan hanya pasar Kotagede dengan kipo-nya yang tidak ditemui di tempat lain. Tiap-tiap pasar memiliki jajan pasar-nya sendiri yang kadang-kadang hanya ditemui di pasar itu saja dan ada pula yang memiliki jajan pasar yang sudah tidak ditemukan lagi di pasar-pasar lainnya.
Saya mulai saya dari pasar Godean. Di pasar ini, ditemui makanan-makanan ringan tradisional yang juga ditemui di pasar-pasar lainnya. Tidak ada yang menarik di sini sebelum saya menemukan bahwa di sini merupakan salah satu pusat penjualan belut goreng (dan belakangan ini keripik bayam). Di pasar ini, belut goreng dijual per 100 gram. Penjual belut goreng ini dapat ditemukan di bagian selatan pasar.
Berikutnya adalah pasar Beringharjo. Banyak orang mengetahui dan mengenal Beringharjo sebagai pasar tradisional yang sangat besar di jantung Kota Yogyakarta. Saya menemukan satu hal yang sangat mengejutkan di pasar ini. Walaupun pasar ini sangat besar, ternyata koleksi jajan pasar di sini sangat miskin! Tidak banyak variasi jajan pasar di tempat ini. Jadi, kurang tepat datang ke pasar ini jika ingin mencicipi bermacam-macam jajan pasar. Terlepas dari hal itu, pasar ini memiliki satu jajan pasar yang unik, yakni mie pentil yang berbentuk seperti karet pentil sepeda. Sayang sekali ketika terakhir kali saya datang ke tempat ini, saya tidak menemui penjual mie pentil tersebut.
Sebuah pasar besar yang lain, yakni Pasar Kranggan, yang terletak di sebelah Barat Tugu Yogyakarta memiliki koleksi jajan pasar yang sangat lengkap. Sebut saja, mulai dari arem-arem, kue lapis hingga jenang grendol yang sudah sangat langka ada di sini. Ada pula makanan yang bernama mento yang belum pernah saya temukan di pasar-pasar lain dan belum pernah saya dengar sebelumnya. Sebenarnya mento ini adalah naga sari yang diganti isinya. Jika naga sari berisi pisang, maka mento berisi daging sapi.
Sekarang kita beralih ke Pasar Patuk, bukan sekedar berisi bakpia, namun juga dengan jajan pasar lain yang terkena pengaruh budaya Cina. Sebagian besar pedagang di sini merupakan keturunan Tionghoa, jadi tidak aneh jika terdapat jajan pasar yang unik di sini. Contoh pertama adalah mien king. Mien king, menurut penuturan penjualnya, makanan yang merupakan sari gandum ini merupakan makanan yang dirancang khusus bagi vegetarian. Biasanya disantap bersama sayur-sayuran dan tidak disarankan mien king disantap sendiri tanpa hidangan pendamping karena rasanya hambar. Bakcang (atau bacang? Entah bagaimana menulisnya yang benar karena telinga saya menangkap bunyi ba’cang dari penjualnya namun pernah melihat tulisan ‘bacang’ yang menunjuk makanan tersebut) tak lain adalah lemper babi. Selain daging babi yang menjadi isinya, yang membedakan bakcang dengan lemper biasa adalah bungkusnya yang merupakan daun bambu. Bagi yang tidak makan babi, tersedia pula bakcang versi ayam. Untuk jajan pasar ‘standar,’ di sini anda dapat menemukan jajan pasar dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan di pasar-pasar lain dan tentu saja lebih mahal. Misalnya, kue talam dengan gula sungguhan, bukan pemanis buatan; semacam kue basah (tak tahu namanya) dengan isi kacang lebih banyak dan kulit tebal dan lebih padat, bukan dengan kulit tebal tapi lembek dengan kacang seadanya sebagai wangi-wangi saja; Pastel dengan daging ayam sungguhan, bukan sayur-mayur dan daun bawang yang direndam dalam kaldu ayam instan; bakpau dengan isi kacang hijau (sungguhan) yang lebih besar dan merata, bukan roti kukus tawar dengan pewangi makanan dan spot kecil kacang hijau di dalamnya.

Tegar Andito

1 komentar:

Nugroho EP mengatakan...

Mie pentil itu yang ngangenin, tapi carinya susahh